PERAN KAMPUS STIT AL AZHAR DINIYYAH JAMBI DALAM MENCETAK GURU YANG BERKARAKTER MUROBBI

Penulis : Mhd. Syahrial, M. Pd
Jabatan : plt. Ketua STIT Al-Azhar Diniyyah jambi

PERAN KAMPUS STIT AL AZHAR DINIYYAH JAMBI DALAM MENCETAK GURU YANG BERKARAKTER MUROBBI

Perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki tanggung jawab strategis dalam mencetak pendidik yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kepribadian dan spiritual yang kuat. Konsep guru berkarakter murobbi menjadi idealisme pendidikan Islam yang menekankan peran pendidik sebagai pembina, pembimbing, dan teladan bagi peserta didik. STIT Al Azhar Diniyyah Jambi sebagai institusi pendidikan tinggi Islam berperan aktif dalam membentuk calon guru yang berkarakter murobbi melalui integrasi kurikulum, pembinaan karakter, serta penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan akademik.

Pendidikan memiliki peran fundamental dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Dalam konteks pendidikan Islam, guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar (mu’allim), tetapi juga sebagai pendidik dan pembina (murobbi) yang bertanggung jawab terhadap pembentukan akhlak dan kepribadian peserta didik. Tantangan pendidikan modern yang cenderung menekankan aspek kognitif menjadikan peran guru berkarakter murobbi semakin relevan dan mendesak.

STIT Al Azhar Diniyyah Jambi sebagai perguruan tinggi Islam memiliki visi mencetak pendidik yang profesional dan berakhlakul karimah. Kampus ini berupaya mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam seluruh proses pendidikan, baik akademik maupun non-akademik. Oleh karena itu, kajian mengenai peran kampus STIT Al Azhar Diniyyah Jambi dalam mencetak guru berkarakter murobbi menjadi penting untuk memahami kontribusi nyata institusi dalam pembangunan karakter pendidik Islam.

Secara etimologis, murobbi berasal dari kata rabba–yurabbi yang berarti mendidik, membina, dan menumbuhkan. Guru berkarakter murobbi adalah pendidik yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membina akhlak, spiritualitas, dan kepribadian peserta didik secara holistik. Dalam perspektif pendidikan Islam, guru murobbi berperan sebagai teladan (uswah hasanah), pembimbing moral, dan pengarah perkembangan potensi peserta didik.

Karakter murobbi tercermin dalam integritas moral, kedalaman spiritual, tanggung jawab sosial, serta komitmen terhadap nilai-nilai Islam. Guru dengan karakter ini mampu menghadirkan pendidikan yang humanis, transformatif, dan berorientasi pada pembentukan insan kamil.

Peran STIT Al Azhar Diniyyah Jambi dalam Mencetak Guru Berkarakter Murobbi:

  • Integrasi Kurikulum Berbasis Nilai Islam

STIT Al Azhar Diniyyah Jambi mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kurikulum perkuliahan, baik pada mata kuliah keislaman maupun mata kuliah kependidikan. Integrasi ini bertujuan agar mahasiswa tidak hanya memahami teori pendidikan, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai murobbi dalam praktik pembelajaran.

       Foto tersebut menggambarkan suasana kegiatan akademik di dalam ruang kelas, di mana para mahasiswa—sebagian besar mengenakan busana muslim dan muslimah—sedang mengikuti proses perkuliahan secara  kondusif.

Dalam konteks integrasi kurikulum berbasis nilai Islam, foto ini merepresentasikan penerapan nilai-nilai keislaman yang tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga diinternalisasikan dalam praktik pembelajaran. Nilai disiplin (al-intizham) terlihat dari keteraturan mahasiswa selama proses evaluasi. Nilai amanah dan kejujuran (al-amanah wa ash-shidq) tercermin dari sikap mahasiswa yang mengerjakan ujian secara mandiri dan bertanggung jawab. Sementara itu, penggunaan busana yang sesuai dengan syariat mencerminkan internalisasi nilai akhlak dan kesadaran religius dalam kehidupan kampus.

  • Keteladanan Dosen dan Tenaga Pendidik

 Dosen berperan sebagai figur sentral dalam pembentukan karakter mahasiswa. Di STIT Al Azhar Diniyyah Jambi, dosen tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan dalam sikap, etika, berpakaian dan spiritualitas. Keteladanan ini menjadi sarana efektif dalam menanamkan karakter murobbi kepada mahasiswa. Sehingganya mahasiswa mengikuti dan membiasakan sikap demikian hal ini berdampak ketika mereka lulus dan mengabdikan diri kedunia pendidikan yang menanamkan karakter murobbi.

Foto tersebut menampilkan kegiatan aksi sosial kemanusiaan yang diselenggarakan oleh Diniyyah Al-Azhar Islamic Education Centre Jambi. Dalam perspektif keteladanan dosen dan tenaga pendidik, foto ini merepresentasikan implementasi nyata nilai uswah hasanah (keteladanan yang baik). Dosen dan tenaga pendidik tidak hanya berperan sebagai pengajar di ruang kelas, tetapi juga sebagai figur teladan yang menunjukkan kepedulian, empati, dan tanggung jawab sosial. Keterlibatan langsung mereka dalam kegiatan sosial menjadi pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa tentang pentingnya mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman dalam kehidupan nyata.

  • Pembinaan Karakter melalui Kegiatan Akademik dan Non-Akademik

Kampus menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan dan pembinaan karakter, seperti kajian keislaman Peringatan Hari Besar Islam (PHBI), ibadah sholat, serta kegiatan organisasi kemahasiswaan bernuansa Islami. Kegiatan ini berkontribusi dalam membentuk kepribadian mahasiswa yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab, sehingganya mereka tertanam sikap sebagai morbbi.

Foto tersebut menampilkan kegiatan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh STKIP dan STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi di Kampus III Pematang Sulur. Terlihat dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa berfoto bersama setelah pelaksanaan kegiatan keagamaan, dengan latar belakang spanduk acara dan deretan bendera organisasi/negara yang mencerminkan semangat kebersamaan, keberagaman, dan identitas kelembagaan. Busana yang sopan dan bernuansa Islami memperkuat citra kampus sebagai institusi pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius.

Dalam konteks pembinaan karakter melalui kegiatan akademik dan non-akademik, foto ini merepresentasikan pendekatan pendidikan yang holistik. Kegiatan peringatan Isra Mi’raj merupakan bagian dari aktivitas non-akademik religius yang berfungsi sebagai wahana internalisasi nilai-nilai spiritual, seperti keimanan, ketakwaan, keteladanan Rasulullah SAW, serta penguatan akhlak mulia. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter mahasiswa sebagai calon pendidik dan intelektual yang berintegritas.

  • Budaya Akademik Islami

STIT Al Azhar Diniyyah Jambi membangun budaya akademik yang berlandaskan nilai-nilai Islam, seperti disiplin, kejujuran, berpakaian menutup aurat, dan tanggung jawab. Budaya ini menjadi lingkungan yang mendukung internalisasi karakter murobbi secara berkelanjutan.

Foto tersebut menampilkan suasana kegiatan akademik yang diikuti oleh dosen dan mahasiswa di lingkungan Diniyyah Al-Azhar Islamic Education Centre Jambi. Terlihat peserta duduk tertib, mengenakan busana yang rapi dan sopan—laki-laki dengan pakaian formal dan peci, serta perempuan dengan hijab—seraya menyimak dan mencatat materi yang disampaikan. Komposisi ruang, sikap peserta yang fokus, serta interaksi yang teratur mencerminkan atmosfer akademik yang kondusif dan beretika.

Dalam konteks Budaya Akademik Islami, foto ini merepresentasikan internalisasi nilai-nilai Islam dalam praktik akademik sehari-hari. Nilai adab menuntut ilmu tampak dari sikap hormat, kesungguhan, dan ketertiban peserta selama kegiatan berlangsung. Tradisi mencatat, mendengarkan dengan saksama, serta menjaga etika b

  • Program unggulan
  • Tahfidzhul qur’an

Program Tahfidzul Qur’an merupakan salah satu peran strategis kampus dalam membentuk karakter murobbi pada calon pendidik. Melalui pembiasaan menghafal, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an, mahasiswa tidak hanya dibina dari aspek kognitif keislaman, tetapi juga aspek spiritual dan moral. Internalisasi nilai Al-Qur’an ini menjadi fondasi utama bagi terbentuknya kepribadian pendidik yang berakhlak mulia, berintegritas, serta mampu meneladani nilai-nilai ilahiah dalam proses pembelajaran dan pembinaan peserta didik. Program Tahfidzul Qur’an STIT Al Azhar Diniyyah Jambi setiap tahunnya mengadakan karantina tahfidz dan wisuda tahfidz, bahkan mahasiswa lulusan sarjana khatam 30 juz Al-Qur’an.

Foto tersebut merupakan Wisuda Tahfidz Qur’an Angkatan ke-IX mahasiswa STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi. Dalam kaitannya dengan program unggulan Tahfidzhul Qur’an, foto ini merepresentasikan keberhasilan kampus dalam mengimplementasikan pendidikan Islam yang terintegrasi antara pengembangan intelektual dan pembinaan spiritual. Program Tahfidzhul Qur’an tidak hanya diarahkan pada kemampuan menghafal teks Al-Qur’an, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter Islami, seperti kedisiplinan, ketekunan, keistiqamahan, dan tanggung jawab moral. Capaian hafalan yang ditampilkan pada wisuda ini menunjukkan proses pembinaan yang terstruktur, berkelanjutan, dan mendapat dukungan kelembagaan yang kuat.

  • Training leadership

Pelaksanaan training leadership menjadi instrumen penting bagi kampus dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan calon guru yang berkarakter murobbi. Program ini dirancang untuk melatih kemampuan kepemimpinan visioner, tanggung jawab, keteladanan, dan kemampuan pengambilan keputusan. Seorang murobbi tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu membimbing, mengarahkan, dan menginspirasi peserta didik menuju pengembangan potensi diri secara optimal. training leadership juga tertuang dalam kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sehingganya mereka belajar menumbuhkan jiwa kepemimpinan guru yang berkarakter murobbi.

Foto tersebut menggambarkan mahasiswa melaksanakan pemilihan ketua dan wakil ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).  foto ini merepresentasikan keberhasilan kampus dalam mengimplementasikan leadership mahasiswa.

  • Penguasaan bahasa arab dan inggris

Penguasaan bahasa Arab dan Inggris merupakan kompetensi strategis yang dikembangkan kampus untuk menunjang peran murobbi dalam konteks global dan keilmuan. STIT Al Azhar Diniyyah Jambi bukan saja  bahasa Arab dan Inggris dimuatkan dalam mata kuliah dalam kelas, akan tetapi mahasiswa diwadahi untuk membiasakan sesama mahasiswa, antara mahasiswa lokal dan mahasiswa internasional atau melalui magang di unit sekolah dalam lingkungan yayasan diniyyah al-azhar memiliki pendidikan dengan unit terlengkap, dan juga digunakan ketika ujian sidang skripsi, mahasiswa dituntut menggunkan bahasa Arab dan Inggris, sehingganya penguasaan bahasa arab dan inggris oleh mahasiswa benar mumpuni.

Foto tersebut menggambarkan mahasiswa ujian sidang skripsi menggunkan bahasa arab. , foto ini merepresentasikan keberhasilan kampus dalam mengimplementasikan pendidikan Islam yang terintegrasi antara pengembangan intelektual dan penguasaan bahasa.

STIT Al Azhar Diniyyah Jambi memiliki peran strategis dalam mencetak guru berkarakter murobbi melalui integrasi kurikulum berbasis nilai Islam, keteladanan dosen, pembinaan karakter mahasiswa, serta penciptaan budaya akademik Islami dan melalui program unggulan kampus. Upaya ini menunjukkan bahwa kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai lembaga pembentukan karakter pendidik Islam yang holistik.

DAFTAR PUSTAKA

An-Nahlawi, A. (2016). Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat. Jakarta: Gema Insani.

Mulyasa, E. (2018). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ramayulis. (2017). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *