Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan Sekolah Tinggi IlmuTarbiyah Al Azhar Diniyyah Jambi Konsisten Melahirkan Guru yang Berkarakter

Penulis : Muhammad Romadhon, M. Ag
Jabatan : Wakil Ketua II STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi

A. Konsep dan Makna Karakter
Karakter merupakan konsep fundamental dalam pembentukan kepribadian manusia.
Secara etimologis, karakter dimaknai sebagai ciri khas, watak, atau sifat yang melekat pada diri seseorang dan tercermin dalam sikap serta perilakunya.

Lickona (1991) menjelaskan bahwa karakter mencakup tiga komponen utama, yaitu moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral). Dengan demikian, karakter tidak hanya berhenti pada pemahaman nilai, tetapi juga menuntut konsistensi dalam pengamalan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.


Dalam perspektif pendidikan nasional, karakter dipahami sebagai nilai-nilai luhur yang
bersumber dari agama, budaya, dan falsafah bangsa yang diwujudkan dalam perilaku peserta didik sebagai individu, anggota masyarakat, dan warga negara (Kemdiknas, 2010).

Sementara itu, dalam pandangan Islam, karakter identik dengan akhlak, yakni manifestasi iman dalam bentuk perilaku yang mencerminkan nilai kejujuran, tanggung jawab, amanah, dan keadilan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din). Berdasarkan beberapa pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah integrasi antara nilai, sikap, dan tindakan yang membentuk kepribadian seseorang secara utuh dan berkelanjutan.


B. Pentingnya Karakter terhadap dunia Pendidikan
Karakter memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena
karakter menjadi penentu kualitas pribadi seseorang dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Manusia yang berilmu tanpa karakter berpotensi menyalahgunakan pengetahuan yang dimilikinya, sementara karakter tanpa ilmu akan sulit berkembang secara optimal.

Oleh karena itu, pendidikan ideal seharusnya mampu menyinergikan ke cerdasan intelektual dengan pembentukan karakter. Dalam konteks pendidikan, karakter menjadi fondasi utama bagi keberhasilan prosespembelajaran. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai teladan nilai dan sikap bagi peserta didik. Keteladanan guru dalam bersikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan beretika akan memberikan pengaruh yang kuat terhadap pembentukan kepribadian siswa. Dengan demikian, pendidikan karakter bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari proses pendidikan itu sendiri.

Lebih jauh, karakter menjadi bekal penting bagi manusia dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perubahan sosial yang semakin kompleks. Nilai-nilai karakter seperti integritas, empati, moderasi, dan tanggung jawab sosial diperlukan agar manusia tidak kehilangan arah dan jati diri di tengah arus perubahan zaman.


C. Fenomena Krisis Karakter di Kalangan Pendidikan
Realitas pendidikan saat ini menunjukkan adanya berbagai fenomena yang mencerminkan krisis karakter, khususnya di kalangan peserta didik. Fenomena krisis karakter
tersebut juga tercermin dalam peristiwa nyata yang baru-baru ini menjadi perhatian publik, sebagaimana terlihat dalam tayangan video yang memperlihatkan kasus kekerasan terhadap seorang guru oleh siswa di salah satu sekolah menengah kejuruan di Provinsi Jambi.

Peristiwa ini menunjukkan lunturnya nilai-nilai dasar pendidikan, terutama sikap
hormat, etika, dan pengendalian diri peserta didik terhadap guru sebagai pendidik. Kasus
tersebut tidak hanya melukai individu guru, tetapi juga mencederai marwah dunia pendidikan secara keseluruhan. Realitas ini menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter tidak boleh dipahami sebatas konsep normatif, melainkan harus diinternalisasikan secara serius dan berkelanjutan sejak dini, termasuk melalui lembaga pendidikan tinggi yang menyiapkan calon guru agar mampu menanamkan nilai karakter sekaligus menghadapi dinamika dan tantangan nyata di lingkungan sekolah.

Kompleksitas persoalan karakter dalam relasi pendidikan juga tampak dalam kasus lain yang terjadi di Muaro Jambi, ketika seorang guru honorer harus menahan tangis di hadapan Komisi III DPR RI setelah menghadapi persoalan hukum akibat upayanya menegakkan disiplin di sekolah. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa tantangan dunia pendidikan tidak hanya berkutat pada aspek akademik, tetapi juga menyentuh persoalan etika interaksi, pengendalian diri, dan saling menghormati antara pendidik dan peserta didik. Realitas ini semakin menegaskan pentingnya pendidikan karakter yang kuat, baik bagi siswa maupun guru, serta urgensi peran lembaga pendidikan tinggi dalam menyiapkan calon guru yang mampu menanamkan nilai karakter sekaligus menghadapi dinamika dan tantangan nyata di lingkungan sekolah secara profesional dan bermartabat.
Selain itu, pengaruh media digital dan budaya instan turut memperparah kondisi
tersebut. Tidak sedikit siswa yang menunjukkan sikap kurang disiplin, rendahnya tanggung jawab akademik, serta lemahnya kepedulian sosial. Fenomena ini menegaskan bahwa pembentukan karakter tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada keluarga atau sekolah dasar dan menengah saja, melainkan harus menjadi perhatian serius lembaga pendidikan tinggi, khususnya yang mencetak calon guru.


D. STKIP dan STIT Al Azhar Diniyyah Jambi melahirkan guru yang berkarakter
Fenomena konflik antara guru dan siswa yang mencuat ke ruang publik tersebut
menegaskan bahwa persoalan pendidikan karakter tidak dapat ditangani secara parsial dan reaktif. Dunia pendidikan membutuhkan solusi yang bersifat mendasar dan berkelanjutan, salah satunya melalui penguatan lembaga pendidikan tinggi yang mencetak calon guru.

Disinilah peran perguruan tinggi keguruan menjadi sangat strategis, karena karakter pendidik tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk melalui proses pendidikan yang sistematis, terarah, dan berlandaskan nilai. STKIP dan STIT Al Azhar Diniyyah Jambi hadir dalam konteks ini sebagai institusi yang tidak hanya menyiapkan kompetensi akademik dan pedagogik calon guru, tetapi juga menanamkan nilai-nilai etika, keteladanan, dan kemanusiaan.

Dengan pendekatan tersebut, kedua lembaga ini berupaya melahirkan guru yang mampu
menjalankan perannya secara profesional sekaligus humanis, sehingga ruang pendidikan
kembali menjadi tempat yang aman, bermartabat, dan berkarakter.

Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Al Azhar Diniyyah Jambi dan
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Azhar Diniyyah Jambi merupakan lembaga
pendidikan tinggi yang berkomitmen kuat dalam menyiapkan pendidik profesional yang
berintegritas dan berkarakter. Sejak awal pendiriannya, kedua institusi ini menempatkan
pendidikan keguruan sebagai misi utama dengan menekankan keseimbangan antara
penguasaan ilmu pengetahuan, dengan kedisplinan yang tinggi, kompetensi pedagogik, serta pembentukan nilai moral dan spiritual.

Konsistensi STKIP dan STIT Al Azhar Diniyyah Jambi tercermin melalui
penyelenggaraan pendidikan yang terintegrasi antara aspek akademik, keislaman, dan
kebangsaan. Proses pembelajaran tidak hanya diarahkan pada pencapaian capaian kognitif, tetapi juga pada pembinaan sikap, etika profesi, dan tanggung jawab sosial calon guru. Nilainilai kejujuran, kedisiplinan, moderasi beragama, serta kepedulian sosial ditanamkan secara sistematis melalui kurikulum, kegiatan kemahasiswaan, dan budaya akademik kampus.
Di tengah tantangan globalisasi dan krisis karakter di dunia pendidikan, STKIP dan
STIT Al Azhar Diniyyah Jambi memandang bahwa guru harus memiliki keteguhan nilai dan
karakter yang kuat. Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter menjadi ruh dalam seluruh aktivitas akademik dan kelembagaan sebagai upaya melahirkan pendidik yang tidak hanya cakap secara profesional, tetapi juga mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat.


E. Kesimpulan
Karakter merupakan fondasi utama dalam pendidikan yang harus terintegrasi dengan
penguasaan ilmu dan kompetensi pedagogik. Fenomena krisis karakter yang muncul dalam relasi guru dan peserta didik menunjukkan bahwa pendidikan yang berorientasi akademik semata tidak cukup menjawab kompleksitas tantangan pendidikan saat ini. Dibandingkan pendekatan parsial dan reaktif, pendidikan karakter yang sistematis dan berkelanjutan terbukti lebih efektif dalam membentuk pendidik yang profesional dan bermartabat.
Dalam konteks tersebut, STKIP dan STIT Al Azhar Diniyyah Jambi menunjukkan
keunggulan komparatif melalui konsistensi dalam mengintegrasikan aspek akademik, moral, dan spiritual dalam pendidikan keguruan. Komitmen ini menegaskan peran strategis kedua institusi sebagai pencetak guru berkarakter yang tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga mampu menjadi teladan dan penjaga nilai dalam dunia pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *