
Nama : Muhammad Romadhon, M.Ag.
Dosen STIT Al-Azhar Diniyyah Jambi

A. Pendahuluan
Sejarah tafsir lazim dibagi ke dalam tiga periode: mutaqaddimīn, muta’akhkhirīn, dan modern (Mustaqim, 2012). Di Indonesia, penafsiran telah dimulai sejak abad ke-16 M, antara lain terbukti dari manuskrip Tafsir Surah al-Kahfi di Aceh yang diduga dibuat pada awal pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607–1636 M) dan kini tersimpan di Cambridge University Library (Gusmian, 2003: 53).
Ulama Indonesia juga menulis tafsir dalam bahasa daerah, salah satunya Tafsir al-Ibrīz karya Bisri Mustofa yang berbahasa Jawa (Gusmian, 2003: 55). Kitab ini semula terdiri atas tiga puluh jilid, satu juz per jilid, dan edisi terbarunya terbit dalam satu jilid beraksara Latin. Keunikannya terletak pada aksara pegon yang lazim di pesantren, bahkan dipakai pula oleh seorang ustaz di Selangor, Malaysia (Mustofa, 2015: vi).
Surah Yāsīn dipilih karena pada akhir penafsirannya Bisri Mustofa menambahkan khatimah yang tidak ada pada surah lain (Mustofa, t.t.: 1570). Artikel ini menjawab dua pertanyaan: bagaimana ia menafsirkan ayat-ayat Yāsīn pada tiap pokok bahasan, dan apa karakteristik penafsirannya. Metodenya adalah penelitian kepustakaan dengan sumber primer al-Ibrīz li Ma‘rifah Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azīz dan sumber sekunder berupa karya sejarah tafsir serta biografi tokoh.
B. Pembahasan
1. Sekilas tentang Bisri Mustofa
KH. Bisri Mustofa adalah pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah. Ia lahir di Kampung Sawahan, Rembang, pada 1915 (Ma’sum, 1998: 319; Rojiqin, 2009: 115; Haqiqi, 2014: 120), putra Zainal Mustofa dan Khatijah, dan semula bernama Mashadi sebelum berganti nama setelah berhaji (Mustofa, 1977: iii). Selain mengasuh pesantren, ia aktif di Masyumi, kemudian NU, terpilih sebagai anggota Konstituante pada Pemilu 1955, dan bergabung dengan PPP setelah fusi partai. Ia wafat pada 17 Februari 1977, menjelang kampanye Pemilu 1977 (Mustofa, 1977). Pemikirannya dinilai moderat dan kontekstual karena memakai pendekatan ushul fikih yang mengedepankan kemaslahatan, dan karyanya yang tercetak diperkirakan mencapai 176 judul.
2. Khatimah Surah Yāsīn
Khatimah menyatakan bahwa Surah Yāsīn berisi tiga pokok: keesaan Allah, ketetapan risalah, serta yaum al-ba‘th dan yaum al-ḥashr (Mustofa, t.t.: 1570). Pembagian ini sejalan dengan yang dilakukan M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah (Shihab, 2002).
3. Pokok pertama: keesaan Allah
Ayat-ayat tauhid disajikan sebagai tanda kekuasaan Allah yang mengajak manusia berpikir. Pada QS. Yāsīn [36]: 33–36 tentang bumi mati yang dihidupkan, Bisri Mustofa mengajak merenungkan bagaimana tanah kering hidup kembali oleh hujan (Mustofa, t.t.: 1547). Ia mencontohkan biji jagung sebesar gigi yang tumbuh menjadi tongkol, pohon asam besar dari satu biji, dan manusia gagah dari setetes air. Bila Allah mampu menciptakan semua itu, menghidupkan manusia yang telah mati tentu lebih mudah. Ia juga menyebut empat unsur penopang kehidupan, yaitu tanah, air, panas, dan udara.
Pada QS. Yāsīn [36]: 37–40 tentang malam, siang, matahari, dan bulan, ia menjelaskan bahwa keteraturan gerak benda langit melahirkan penanggalan Syamsiah dan Qamariah, lalu mengibaratkannya dengan mesin arloji yang rodanya berputar pada tempatnya masing-masing; bedanya, hubungan benda langit bersifat magnetis (Mustofa, t.t.: 1552). Pada QS. Yāsīn [36]: 41–44, ia menukil cerita kapal Nabi Nūḥ bertingkat tiga untuk hewan buas, hewan besar, serta manusia dan burung, tanpa menyebut sumbernya, dan menegaskan bahwa keselamatan hanya datang dari rahmat Allah (Mustofa, t.t.: 1554).
4. Pokok kedua: ketetapan risalah
QS. Yāsīn [36]: 1–6 menegaskan kerasulan Nabi Muhammad yang membawa Al-Qur’an penuh hikmah, sekaligus menyanggah orang kafir yang menolaknya. Menurut Bisri Mustofa, tujuan pengutusan adalah memberi peringatan kepada kaum yang sejak masa Nabi Ismā‘īl belum kedatangan nabi (Mustofa, t.t.: 1529). Pada ayat 7–11, ia menyebut Abū Jahl, ‘Utbah, Shaybah, dan al-Walīd bin al-Mughīrah sebagai contoh orang yang telah ditetapkan tidak beriman, diibaratkan terbelenggu dan terhalang pandangannya. Nabi tetap diperintah memberi peringatan agar kelak mereka tidak dapat berdalih, sementara orang yang mengikuti peringatan dan takut kepada Allah dijanjikan ampunan dan pahala mulia (Mustofa, t.t.: 1530).
5. Pokok ketiga: hari kebangkitan dan hari berkumpul
Terhadap QS. Yāsīn [36]: 32, ia menjelaskan bahwa semua manusia dikumpulkan dan dihadapkan kepada Allah, lalu menukil kisah manusia dikumpulkan di Padang Maḥshar dalam keadaan telanjang, dan jawaban Nabi kepada ‘Ā’ishah bahwa setiap orang sibuk dengan nasibnya sendiri (Mustofa, t.t.: 1546). Pada ayat 48–50, ia menggambarkan orang kafir yang mengejek janji kiamat, padahal kiamat datang lewat satu tiupan (Mustofa, t.t.: 1556). Pada ayat 51–52, ia merinci kebangkitan: hujan menyerupai air mani selama empat puluh hari, jasad tumbuh kembali seperti tanaman, lalu api besar menggiring manusia ke Maḥshar. Wujud mereka berubah sesuai amalnya, seperti berwajah kera bagi pemfitnah dan berwajah babi bagi pemakan riba. Uraian ini bersumber dari Daqā’iq al-Akhbār.
6. Karakteristik penafsiran
Terdapat empat ciri utama. Pertama, bahasa Jawa pegon dengan penerjemahan kata demi kata yang dekat dengan tradisi belajar pesantren. Kedua, penjelasan komunikatif dengan perumpamaan sehari-hari seperti jagung, biji asam, dan arloji, yang menerjemahkan konsep teologis ke pengalaman masyarakat agraris Jawa. Ketiga, kecenderungan menukil riwayat naratif, sebagian tanpa sumber, yang menguatkan daya dakwah tetapi menuntut penelusuran sanad lebih lanjut. Keempat, orientasi dakwah yang disistematisasi lewat khatimah: tauhid sebagai fondasi, risalah sebagai jalan, dan kebangkitan sebagai muara pertanggungjawaban.
C. Penutup
Penafsiran Surah Yāsīn dalam Tafsir al-Ibrīz terbagi atas tiga pokok: keesaan Allah melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya, ketetapan risalah Nabi Muhammad, dan adanya hari kebangkitan serta hari berkumpul. Bisri Mustofa menyampaikannya dengan bahasa yang komunikatif, perumpamaan yang akrab, dan narasi yang menggugah, sehingga tafsirnya menjadi contoh kekhasan tafsir lokal Nusantara. Penelitian lanjutan dapat menelaah secara kritis sumber riwayat dalam kitab ini dan membandingkannya dengan tafsir lain atas Surah Yāsīn.
Daftar Pustaka
Gusmian, Islah. 2003. Khazanah Tafsir Indonesia: Dari Hermeneutika hingga Ideologi. Jakarta: Teraju.
Haqiqi, M. al-Fitra. 2014. 50 Ulama Agung Nusantara. Jombang: Darul Hikmah.
Ma’sum, Saifullah. 1998. Karisma Ulama: Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU. Bandung: Mizan.
Mustaqim, Abdul. 2012. Dinamika Sejarah Tafsir Al-Qur’an. Yogyakarta: Adab Press.
Mustofa, Bisri. 1977. Sejarah Singkat KH. Bisri Mustofa Rembang. Kudus: Menara Kudus.
Mustofa, Bisri. 2015. Tafsir al-Ibriz Versi Latin. Ed. Bisri Adib Hattani. Wonosobo: Lembaga Kajian Strategis Indonesia.
Mustofa, Bisri. t.t. al-Ibrīz li Ma‘rifah Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azīz. Kudus: Menara Kudus.
Rojiqin, Badiatul, dkk. 2009. Menelusuri Jejak, Menguak Sejarah: 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia. Yogyakarta: e-Nusantara.
Shihab, M. Quraish. 2002. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Vol. 11. Jakarta: Lentera Hati.

